Posts

Kalau Kesal dengan Takdir Allah?

Image
Pernah ngerasa kesel gak sih? Karena rasanya, yang diperjuangkan mati-matian kemarin, menjadi tidak ada gunanya. Padahal sudah di depan mata, ya, padahal tinggal selangkah lagi. Tapi tiba-tiba semua berbalik 180 derajat. Berbalik sama sekali. Sama sekali tidak berpihak dengan apa yang kita bayangkan selama ini. Jadi seperti sia-sia kayaknya, udah pontang panting selama ini. Ya, pasti sedih, jika kita berada dalam kondisi seperti itu kan. Pasti rasanya ingin menangis. Ya gak sih? Atau cuma saya saja ya? Hehe.. Hm.. tapi jika memang kita harus sedih, harus menangis, boleh gak sih? Ya boleh lah. Namanya juga manusia. Apalagi kita sebagai seorang wanita. Trus harus gimana? Ya, berada di kondisi seperti itu tentu tidak mudah. Sangat tidak mudah. Belum kalau kita membayangkan berapa orang yang ikut kecewa, orang tua kita juga pasti merasa bersedih, dan banyak pihak lain yang tentu nya tak puas dg apa yang qodarullah terjadi. Tapi, gak papa koq. Nangis gak papa koq. Sedi...

Ketika Harus Memutuskan

Image
"Mungkin bagi mereka, mereka hanyalah panen ilalang. Karena anaknya tak tumbuh seperti yang diharapkan" Tapi...  "Semoga apa yang kita lakukan ini, kita perjuangkan ini, bisa menjadi obat atas kekecewaan mereka, suatu hari nanti..." Seringkali, apa yang jadi harapan kita tak sesuai dg harap orang tua. Seringkali, apa yang kita ingin lakukan tak menjadi yang sama dg keinginan mereka atas kita. Seringkali, apa yang kita perjuangkan rasanya tak bisa serasi dg apa yang mereka anggap harus dipertahankan. Tapi.. Memang hidup harus memilih. Pilihan yang mengharuskan kita untuk siap dg konsekuensi. Pilihan yang mengharuskan salah satu pihak merasa kecewa. Pilihan yang mengharuskan untuk bersabar dg keputusan yang tak sesuai angannya. "Lakukanlah.. Jika memang itu adalah perintah Allah.. Kalau bukan patuh pada Allah, kita mau patuh pada siapa?" Aku tau, itu tidak mudah. Sangat tidak mudah. Ketika akhirnya memilih untuk berbenturan ...

Untuk Anakku, Yang Akan Menerima Pinangan

Image
Anakku, tidak terasa ya, usiamu sudah beranjak dewasa. Ya, sudah dewasa, Ibu rasa. Hingga akhirnya, Ibu mendapati seorang lelaki yang datang menyampaikan niat baiknya. Bohong, jika tidak ada rasa sedih dalam hati Ibu. Ya, sedih. Anak perempuannya, yang biasanya masih bisa bebas dipeluk, ditelepon, digangguin oleh ibunya, setelah kalimat akad tiba sudah bukan 100% milik ibu lagi. Bohong, jika tidak ada rasa khawatir dalam benak Ibu. Ya, khawatir. Anak perempuannya, akankah Ibu serahkan kepada lelaki yang tepat? Anak perempuannya, akankah bisa disayangi sebagaimana Ibu tak pernah terpikir apapun kecuali sayang kepadanya. Anak perempuannya, akankah bisa diterima baik, sebagaimana Ibu selalu memaklumi segala kurang yang ada. Bohong, jika tidak ada rasa ragu dalam merestui keputusanmu itu, Nak. Ya, ragu. Anak perempuannya, apakah sudah siap menerima babak baru kehidupan bersama keluarganya kelak. Anak perempuannya, apakah sudah siap menjalani lika-liku uji ber...

Emangnya Pernikahan itu Selalu Indah?

Image
Emangnya Menikah itu Selalu Indah ya? Jawabannya, tidak. Tapi kadarnya bisa jadi berbeda, penyikapan satu orang dibanding orang lain juga tidak sama. Yang pasti, menikah itu pasti harus siap berhadapan dengan masalah. Kalau dulu masalah biasanya berkutat pada diri sendiri. Nah kalau sudah menikah, maka masalah akan selalu terkait dengan pasangan, dan anak-anak. Tentu tidak lebih mudah. Ada banyak perasaan yang harus dijaga, dan terkadang ada hati yang harus tersakiti. #duh bahasanya koq sedih sekali ya.. Gak gitu juga sih. Intinya ketika seorang menikah, ia harus siap, bahwa episod baru kehidupannya memang baru saja dimulai. Menikah bukan akhir dari pencarian, tapi justru awal kita akan mencari kebahagiaan bersama pasangan dan keluarga. Apakah itu mudah? Tidak. Meski di awal sudah sama sepakat, dan sepemikiran; tetap bisa dipastikan di dalam perjalanan akan ada gesekan. Pemikiran yang tidak saling bersepakat, hati yang tidak saling dilapangkan, maaf yang tak pernah mudah t...

Kalau Ibu Rumah Tangga Bosan?

Image
Salah satu tantangan menjadi seorang Ibu Rumah Tangga adalah menghadapi rasa bosan, jenuh, suntuk menghadapi persoalan yang sebenarnya itu-itu saja. Persoalan yang sebenanrya tidak banyak berbeda tiap harinya; biasanya akan berkutat dengan dirinya, anaknya, suaminya. Ya, itu. Termasuk di dalamnya adalah aneka perkakas yang harus diberesinya, baju yang harus dicucinya, masakan yang harus dibuatnya, dan segala rupa lain yang sebenarnya ya itu-itu saja; tidak banyak yang berbeda. Tidak banyak yang aneh-aneh. Mungkin itu juga yang membuat gampang bosan. Tidak ada tantangan, katanya. Padahal, mengatasi rasa bosan itu sendiri merupakan sebuah tantangan yang harus ditaklukkan. Penting sih, karena kalau kita sudah jenuh, otomatis segala hal di rumah rasanya tidak terlalu menarik untuk dibersamai dan diselesaikan. Tugas jadi terbengkalai, anak jadi tidak terurus, rumah berantakan. Ah, kacau lah semuanya. Namun, PR untuk mencari solusi menghilangkan perasaan ini yang sampai saat in...

Pertimbangan Resign dari PNS?

Image
Tahun 2012 saya bergabung dengan keluarga besar Kementerian Keuangan, Direktorat Jenderal Anggaran. Namun, di tahun 2015, saya memutuskan untuk resign dari PNS. Banyak yang bertanya mengapa, tak sedikit yang menyayangkan keputusan saya, dan ternyata tak sederhana konsekuensi yang harus saya tanggung setelahnya. Meskipun, saya katakan di sini bahwa saya bersyukur dengan keputusan saya itu. Lalu, apakah kemudian saya menganjurkan teman-teman untuk resign juga dari PNS? Nanti dulu. Saya membahas ini bukan untuk menjadi kompor teman-teman untuk keluar juga dari pekerjaannya. Tapi, saya membahas ini dengan tujuan, semoga bisa menambah wawasan dan membantu pertimbangan teman-teman yang saat ini mungkin sedang dilema, galau dengan dua pilihan ini setelah menikah nantinya - tetap bekerja atau resign saja Berdasarkan beberapa cerita yang saya dapatkan, juga dari pengalaman saya sendiri tentunya. Alasan seorang wanita, setelah menikah, resign dari pekerjaan kira-kira sebagai berikut...